Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa usai salat Ied, Rasulullah SAW berjalan-jalan. Di tengah kegembiraan anak-anak yang sedang bermain-main riang gembira, Rasulullah melihat seorang anak sedang duduk menangis tersedu-sedu di atas sebongkah batu. Pakaiannya lusuh dan tidak terawat. Lantas Rasulullah Saw mendekati seraya bertanya pada anak kecil tersebut, “Apa yang membuatmu bersedih pada hari raya ini, wahai anakku? Mengapa engkau tidak ikut bermain bersama anak-anak yang lainnya?”
Lantaran tak mengenali orang yang menegurnya, sang anak dengan mengisak menjawab, “Andaikan ayahku masih hidup!” Andaikan ayahku masih hidup, tentunya nasibku tidak semalang ini.” Rasulullah SAW bertanya, “Kemanakah ayahmu?”
Sang anak menjawab, ”Wahai lelaki, ayahku telah meninggal dunia, dia ikut berperang bersama Rasulullah. Ibuku telah menikah dengan suami barunya. Hakku terampas. Aku terusir dari rumahku sendiri. Aku tidak memiliki makanan. Aku kelaparan. Aku tidak memiliki pakaian baru. Aku tidak memiliki tempat berteduh. Ketika aku melihat anak-anak lainnya yang memiliki ayah, aku menjadi sangat sedih dirundung musibah menjadi seorang anak yatim. Hal itulah yang membuat aku menangis.”
Kemudian Rasull membawanya kerumah memberikan ia makanan, pakaian, dan menjadikannya ia anak sebagai ayahnya dan Siti Aisyah adalah ibunya
Lihatlah kondisi saat ini, betapa banyak di tengah-tengah masyarakat kita ada di antara para orang tua yang tega menelantarkan anak-anaknya.
Mari jadilah kita sebagai orang tua asuhnya orang tua yang bisa mencukupi sebagian kebutuhannya memberi kebahagiaan walau hanya sekedar mengganti perlengkapan sholat mereka yang sudah usang.
fb. yatim dhuafa yamuti
ig. yatim yamuti pusat
www.yamuti.org

